Selasa, 26 Februari 2008

PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM DUNIA ADVERTISING

Perubahan dari Advertising Konvensional menuju e-Advertising

Perkembangan teknologi memperkaya kemungkinan cara berkomunikasi, dan pada saat yang sama terjadi perubahan-perubahan mendasar di mana-mana, jungkir baliklah pemahaman orang tentang periklanan. Bahkan definisi yang mengaitkan periklanan dengan media massa mulai diragukan orang. Sebagian pakar menyatakan, apa yang disebut orang sebagai komunikasi pemasaran terpadu (integrated marketing communications). Itulah wajah periklanan saat ini sudah banyak yang meramalkan bahwa gemerincing uang iklan akan mengalir deras ke media online, sementara aliran ke media tradisional seperti teve, cetak dan radio, makin seret. Itu sebabnya ketika sebuah lembaga riset mengemukakan hasil studinya, tak banyak pihak yang terkejut. Ramalan itu sudah menjadi kenyataan. Iklan teve 30 detik sudah diujung tanduk. Iklan radio dan tv makin terancam. Sebaliknya, iklan online kian perkasa dan menjadi pilihan utama para pemasang iklan. Outsell Inc., sebuah lembaga riset industri informasi melaporkan bahwa pasokan uang ke sektor online kian banyak. Hasil studi Outsell Inc yang dirilis Januari lalu berdasarkan survei terhadap 625 pemasang iklan di AS, mengungkapkan bahwa pada tahun 2006 mereka akan membelanjakan iklan online sebesar 18 persen daripada total belanja iklan. Ini berarti lebih besar ketimbang porsi belanja tahun 2005 yang sebesar 16 persen. Padahal, pada saat yang sama, tahun ini mereka mencekik belanja di media tradisional. Tahun lalu misalnya, 31.9 persen budget iklan dibelanjakan di media TV dan radio. Kini hanya tingga 30.6 persen. Pada Tahun 2005 sebesar 29,2 persen belanja iklan ditaruh di media cetak. Kini dipotong tinggal 28.5 persen. Outsell juga melaporkan bahwa sekitar 80 persen pemasang iklan kini menggunakan Internet, dan akan tumbuh hingga 90 persen pada tahun 2008.

Advertising atau periklanan adalah bentuk komunikasi ke konsumen dengan cara membayar space tertentu dan biasanya mengandung makna persuasive (ajakan). Pada dasarnya iklan telah ada sejak jaman purba. Hal ini bisa dilihat dari lukisan-lukisan di dinding-dinding kota kuno atau bentuk-bentuk barang yang mengandung unsur ajakan terhadap suatu benda, anggur atau makanan misalnya.

Dengan dimulainya teknologi cetak pada tahun 1455, maka muncullah media iklan baru saat itu, yaitu dengan menggunakan kertas, yang dapat diproduksi massal, misalnya dalam bentuk handbill. Munculnya media koran juga menumbuhkan ruang iklan baru, yang pertama kali diinisiasi pada tahun 1625. Iklan di surat kabar pertama di Amerika muncul di Boston Newsletter di tahun 1704.

Iklan pertama yang menggunakan media radio muncul pada tahun 1926 ketika RCA membeli jaringan radio dari AT&T, termasuk WEAF di New Jersey, dan membentuk National Broadcasting Company. Hal ini diikuti oleh pertumbuhan iklan yang pesat di media TV yang mulai berkembang di tahun 1948. TV mempunyai keunggulan disbanding media lainnya karena kemampuannya mendemonstrasikan benefit dari suatu produk.

Secara umum, di awal perkembangan iklan, ada lima media yang menyediakan space terbesar untuk iklan adalah surat kabar, majalah, radio, TV, dan media luar ruang seperti billboard. Surat kabar adalah media beriklan khususnya untuk belanja rumah tangga. Radio dan majalah menembak sektor konsumen yang unik, misalnya iklan di SMART FM bertujuan untuk menembak konsumen yang educated, usia professional, dan cenderung sophisticated. Iklan di majalah Mobil Motor jelas untuk konsumen yang gemar atau hobi mengutak-atik kendaraan bermotor. Iklan di TV punya keunggulan untuk image building dan mendemonstrasikan produk, sedangkan iklan luar ruang dapat menjangkau publik yang luas secara berulang-ulang di beberapa kota besar.

Animasi di internet hingga trailer film di DVD. Hal ini men-generate munculnya Integrated Marketing Communication (IMC), yaitu upaya penggunaan media-media komunikasi pemasaran "dari iklan hingga pengemasan- dengan tujuan menyampaikan pesan persuasive yang jelas, konsisten, dan mencapai target. Misalnya, mempromosikan produk dengan memanfaatkan kombinasi iklan di 5 media, sales promotion, MLM, dan sebagainya dengan tujuan meningkatkan penjualan.

Pada era informasi ini, internet juga memegang peranan penting sebagai space atau media beriklan. Misalya iklan yang dipasang di website, portal berita, blog, intermercial (iklan yang muncul sebelum adanya koneksi ISP ke internet). Kelebihan internet sebagai media iklan adalah kemampuannya untuk melakukan pertukaran informasi dua arah dengan konsumen secara update dan real time. Satu cara marketing yang biasa dilakukan via internet adalah viral marketing, yaitu satu orang yang secara khusus menyebarkan ide tentang suatu produk melalui chat rooms, mailing list atau forum-forum yang marak di internet. Harapannya, informasi produk tadi akan menancap di benak para netters, dan akan disebarkan ke orang lain hingga menyebar seperti virus.

Di dalam dunia periklanan, teknologi berkembang berdampingan dengan perkembangan teknologi media massa. Pada dekade terakhir, perkembangan teknologi di dalam industri periklanan berputar di sekitar dunia internet. Sebagai contoh, dapat dilihat begitu banyaknya iklan yang terpampang atau bahkan bisa tiba tiba muncul ketika kita sedang browsing informasi di internet.

Iklan pada blog, intermercial ataupun button adalah beberapa bentuk penggunan internet sebagai ruang iklan. Intermercial misalnya, merupakan iklan yang muncul bahkan sebelum kita terhubung pada jaringan internet. Para pengiklan biasanya memilih internet, karena jangkauan internet sangatlah luas. Internet mampu menjaring jutaan pemirsa. Untuk itulah bisnis periklanan di dunia internet menjadi terus berkembang hingga sekarang. Periklanan melalui internet diharapkan bukan hanya ampuh menjangkau khalayak yang beragam tapi juga merupakan salah satu cara memperluas efek dari iklan yang sebelumnya memang telah dibuat di media konvensial seperti surat kabar, majalah, koran, televisi, atau radio.

Mungkin yang menjadi aspek yang paling menarik dari internet terdapat pada suasananya yang interaktif. Internet memungkinkan pertukaran informasi berlangsung dengan cepat, karena internet merupakan sarana komunikasi dua arah. Para perusahaan dapat mempromosikan produknya sekaligus mewadahi keluhan dan saran dari pelanggannya melalui internet. Dengan demikian keluhan dapat ditanggapi secara lebih cepat, dan hubungan dapat diperbaiki kembali.

Perkembangan periklanan melalui internet melahirkan sesuatu yang disebut dengan Viral Marketing. Viral marketing merupakan salah satu bentuk iklan yang didalamnya terdapat tim pemasaran yang mengikat diri untuk berpartisipasi dalam hal bertukar informasi mengenai suatu produk di dalam chat room pada internet. Startegi iklan tersebut berguna untuk memberikan dorongan kepada diskusi mengenai hal hal yang berhubungan dengan merk produk yang ingin dipasarkan.

Cara lain yang digunakan untuk beriklan adalah dengan mensponsori situs yang kira kira akan ramai dikunjungi oleh pemirsa. Contohnya google.com dimana seseorang terbiasa mencari informasi. Dengan mensponsori situs tersebut, nama produk atau perusahaan akan terpampang ketika seseorang membuka situs google.

Teknologi informasi telah dan secara terus menerus menciptakan cara baru demi menghubungkan antara merk suatu produk dengan konsumen. Diharapkan, jika seseorang secara intensif dan frekuentif membaca merk suatu produk, maka konsumen akan terpengaruh untuk membeli produk tersebut. Para pengiklan menyediakan informasi mengenai konsumen, data tersebut dikumpulkan dan disimpan. Hal tersebut biasa disebut dengan database marketing.

E-commerce merujuk pada rentang yang luas mengenai transaksi yang bersifat komersial, serta pembelian yang terjadi melalui internet. Jadi para perusahaan mengiklankan, mempromosikan, dan mempublikasikan produk mereka sehingga para konsumen dapat melihat, membeli, dan melakukan transaksi melalui internet.

Konsumen akan mendapatkan informasi jelas mengenai suatu produk, menanyakan informasi lebih lanjut, serta memberikan tanggapan atas produk yang ditawarkan. Ternyata, periklanan melalui internet tidak hanya akan meraih konsumen yang berada di rumah, namun melalui teknologi tanpa kabel internet atau internet telephony interactive, komunikasi dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.

Salah satu cara mengukur efektivitas iklan di internet adalah dengan menghitung jumlah click dalam periode tertentu (bisa per jam, hari, atau minggu) yang biasa kita sebut hit counting. Lebih jauh lagi, perusahaan dapat membuat database marketing, yaitu simpanan data dan informasi mengenai konsumen sehingga di kemudian hari dapat dilakukan pelayanan khusus (personalisasi) kepada konsumen tersebut. Satu proses krusial dalam database marketing adalah data mining, yaitu proses mengkompilasi dan menganalisis data konsumen menjadi informasi yang relevan yang bisa digunakan untuk merancang strategi pemasaran terhadap konsumen-konsumen tersebut.

Satu isu penting dalam beriklan di internet adalah norma. Pengguna internet, termasuk kita, tentu sering mendapat email spam, yaitu email berisi iklan yang “tanpa permisi” masuk ke email kita dan menghabiskan kuota memori email. Tentu saja hal ini menyebalkan. Namun ada bentuk permission marketing, yang dipopulerkan oleh Seth Godin, yaitu bentuk marketing dimana konsumen memberi ijin kepada pengiklan untuk beriklan. Di AS, email-email spam ini mendapat tentangan dari Hukum Canspam, yang undang-undangnya dikeluarkan tahun 2003.

Selain internet, iklan juga berkembang di media-media yang kini banyak bermunculan. Misalnya iklan di Digital Video Recorder (DVR), yang disebut advertainment, yaitu mengkombinasikan iklan ke dalam isi produk entertainment. Contoh nyata adalah iklan yang muncul sebelum film DVD atau bioskop diputar. Bentuk iklan lain adalah product placement, yaitu menyisipkan produk pada sebuah acara entertainment, misalnya di acara Oprah Winfrey Show, di acara Indonesian Idol atau AFI, dan sebagainya.

Digital Video Recorder (DVR) merupakan bentuk teknologi yang memacu pertumbuhan dunia periklanan. Para pengiklan merasa yakin bahwa beriklan melalui dvr lebih banyak menjaring konsumen secara signifikan dibandingkan iklan yang disiarkan melalui televisi komersial biasa. Pengemasan bentuk iklan ini disebut juga advertaintment. Dengan ini para perusahaan semakin banyak yang beriklan di internet dengan memasang iklan dalam bentuk yang interaktif. Prosesnya adalah sebagai berikut; para perusahaan yang ingin beriklan akan mendatangi agensi atau biro iklan dan membayar sejumlah dana untuk mendapatkan iklan yang pas untuk produknya. Setelah itu biro iklan tersebut akan membeli satuan waktu yang digunakan untuk menyiarkan iklan tersebut. Maka media akan menyentuh publik melalui iklan iklan yang ditampilkan dan menyerahkan sepenuhnya kepada publik untuk membeli produk yang telah diiklankan atau tidak.

Sesungguhnya, pemasaran di internet mengalami transformasi, yaitu pergeseran dari pemasaran produk ke pemasaran kontekstual. Selama beberapa dasawarsa, pemasaran produk klasik dibangun di atas dua pilar, yaitu kinerja produk dan citra produk.

Berikutnya, para pemasar melakukan apa saja untuk memperbaiki kualitas produk dan citra. Pembuat sup, misalnya, telah mencoba berbagai bumbu, semua bumbu alami, bumbu yang lebih kental, dan bumbu dengan rasa baru untuk membedakan dan menyempurnakan produk-produk mereka. Lalu, dengan bantuan periklanan massal, produsen mencari dan menciptakan citra-citra merek produk baru agar tetap relevan bagi generasi demi generasi.

Kini internet menyediakan bagi pemasar sebuah alat yang efisien untuk memberikan dimensi-dimensi baru pada produk-produk massal. Merek produk telah memperpanjang relevansi serta relasi mereka dengan konsumen melalui internet. Kini para konsumen tidak lagi mencari sup dalam kaleng, tetapi juga berusaha memahami dan mengerti lebih banyak tentang konteks pemakaian produk. Bukan hanya bagaimana kinerja produk itu masuk ke dalam hidup mereka dan membantu mereka.

Konsumen secara aktif mencari lebih banyak informasi serta pengetahuan dibandingkan sebelumnya, mereka tidak hanya sekedar membeli popok, tapi mereka ingin mengetahui bagaimana seharusnya merawat bayi. Oleh sebab itu, merek-merek di internet kini memanfaatkan peluang untuk membahas isu-isu kontekstual yang lebih luas untuk membina relasi merek yang lebih dalam dan lebih bermakna dengan para konsumen.

Pendorong utama revolusi pemasaran kontekstual adalah informasi dan edukasi. Adalah benar bahwa relasi program pemasaran di luar internet dalam bentuk kegiatan di toko, program komunitas, dan klub, selama bertahun-tahun telah memperluas jangkauan merek-merek. Yang masih kurang adalah mekanisme yang efisien untuk menyampaikan informasi baru yang lebih kompleks kepada masyarakat.

Selama ini, para pemasar meluncurkan program-program pemasaran relasi massal yang tidak benar-benar memberikan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen seperti peluang di internet. Situs-situs web yang baik memungkinkan pengunjungnya menelusuri kebiasaan-kebiasaan mereka, menyediakan kalkulator dan berbagai layanan diagnostik untuk memudahkan konsumen menganalisis apa yang mereka butuhkan, menghibur dan membangkitkan rasa ingi tahu tentang informasi yang terkait dengan merek-merek mereka.

Dalam beberapa produk tradisional, pemasaran kontekstual di internet membuka cara-cara baru untuk menciptakan relevansi baru ke konsumen. Situs web milik Pond’s di Asia, misalnya, menjadi perpanjangan tangan Ponds’s Institute. Situs ini memudahkan konsumen belajar bagaimana cara merawat kulit mereka. Para konsultan kulit dapat dihubungi melalui situs tersebut, sehingga para pemakai dapat memperoleh nasehat yang personal. Jadi sementara janji yang diberikan sebuah merek tidak berubah, internet menambahkan dimensi baru pada pengalaman konsumen dengan merek tersebut.

Bagi merek-merek lain, konteks pemakaian produk mungkin akan mendorong mereka ke dalam bidang interaksi baru dengan konsumen. Semua itu memberikan kepada pemain berbagai peluang baru untuk membina hubungan yang lebih kuat antara merek mereka dan konsumen. Namun tantangannya juga ada, pertama, banyak perusahaan yang akhirnya bergeser dari bisnis awal ketika berusaha menjadi penyedia informasi. Kedua, guna mengukuhkan hubungan dengan konsumen di internet, pemasar harus siap untuk interaktif, untuk menjawab pertanyaan mereka atau untuk mendesain cara-cara baru yang inovatif agar konsumen dapat meningkatkan pengetahuan mereka sendiri.

e-Advertising

Kegiatan periklanan melalui internet atau layaknya disebut-sebut sebagai ”E Advertising” kini sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan. Sejak pertama kali internet dibuka untuk dipergunakan secara luas oleh publik membuka juga peluang bisnis melalui media internet atau lebih dikenal dengan sebutan electronic commerce (e-commerce) dimana semua kegiatan transaksi dilakukan mempergunakan media internet ini, baik pemesanan maupun pembayaran yang dilakukan secara online. Karena e Advertising ini tidak mengenal jarak, ruang dan waktu, maka pertimbangan utama dalam pemilihan situs untuk menayangkan iklan adalah pada situs web yang banyak diakses user.Jika kita memasang iklan di halaman paling strategis, harganya lebih mahal daripada halaman lainnya. Jenis/teknik penayangan iklan dan durasinya juga mempengaruhi besarnya biaya iklan.Biasanya, situs-situs yang diminati adalah yang menyediakan informasi terkini, seperti suratkabar online. Di simpulkan bahwa e advertising adalah media iklan yang menggunakan media elektronik untuk beriklan dalam hal ini menggunakan internet.

Peralatan atau perkakasan yang diperlukan bagi membina suatu sistem rangkaian terdiri daripada komputer, kad antaramuka dan perkakasan-perkakas lain yang digunakan bagi tujuan melakukan pemprosesan dan komunikasi data di dalam suatu rangkaian. Berikut adalah beberapa peralatan rangkaian yang utama. Server file, Work station, network interface card, concentrators, repeaters, bridges, routers, istilah-istilah tersebut merupakan perangkat dari internet, disamping personal komputer yang lengkap, modem, atau pun juga saluran telepon. Kita juga harus mendaftarkan diri ke Internet Service Provider (ISP) untuk mendapatkan software serta capaian ke Internet. Internet Service Provider adalah suatu perusahaan yang menyediakan layanan ke Internet atau biasanya juga disebut sebagai pintu gerbang ke Internet. Supaya kita dapat menghubungi Internet kita perlu mendaftarkan diri ke ISP untuk mendapatkan nama dan alamat di Internet.

Adapun fungsi internet dalam periklanan adalah sebagai berikut:

1. Mencapai high quality customers, Konsumen yang benar-benar terfokus dengan menempatkan iklan / promosi pada halaman internet yang spesifik, maka perusahaan anda akan mencapai konsumen secara lebih spesifik sehingga iklan dapat termonitor dengan program khusus sebagai media promosi misalnya pengenalan dan pemesanan produk dengan beriklan di internet.

2. Mengurangkan ongkos kertas dan pemasaran (paperless environment) sebagai media pertukaran data yang dapat diakses kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja, sehingga dapat mencapai banyak pelangggan potensial baik lokal maupun global. Iklan dapat diubah setiap saat dan hasilnya dapat ditayangkan saat itu juga dan dengan teknologi multimedia yang makin berkembang dapat dipakai untuk menciptakan iklan-iklan yang cantik dan menarik dengan harapan jumah user yang mengakses iklan dapat dimonitor dengan program khusus, sehingga datanya dapat menjadi bahan analisa untuk strategi periklanan dan komunikasi.

Jenis-jenis iklan di internet pun beragam, dan bahkan, sejauh bentuk yang diinginkan oleh pengiklan dapat diakomodasi secara teknis, maka iklan tersebut dapat diwujudkan. Di Kompas Cyber Media, ada beberapa jenis iklan: iklan banner, iklan layer, iklan baris. Yang terbaru adalah iklan advertorial, dimana perusahaan dapat menayangkan berita-berita mengenai perusahaannya didalam rubrik-rubrik Kompas Cyber Media yang dipilih. Ada 2 jenis kategori penyajiannya,

1. Periklanan pasif, disini pengiklan menempatkan informasi pemasaran dan periklanan di situs web mereka dan mengundang pelanggan potensial untuk masuk ke dalamnya dan memperoleh informasi secara cuma-cuma. Pengkomunikasian situs web dilakukan dengan cara memberikan alamat web perusahaan tersebut pada merchandising mereka.

2. Pemasangan iklan pada situs web yang banyak dikunjungi oleh users. Seperti halnya media tradisional, pengiklan mendapatkan keuntungan dari banyaknya kunjungan ke situs web tempat pemasangan iklan. Bila pengunjung tertarik pada gambar yang ditampilkan pada banner iklan, maka diharapkan pengunjung situs tersebut akan merespon dengan mengklik banner dan surfing pada website pengiklan.

Penyajian e-Advertising yang Baik

Kita membuat design iklan yang punya stopping power hebat di internet, kita rancang dengan melakukan riset terlebih dahulu. Setelah iklan selesai kita buat. Kita sajikan iklan tersebut di halaman ataupun situs web yang paling sering dikunjungi, baik oleh konsumen produk tersebut atau secara umum. Gambar yang dibuat harus menarik perhatian pengunjung. Sehingga diharapkan mereka akan segera memasuki halaman iklan itu dengan merespon balik tentang iklan itu.

Kelebihan iklan melalui media internet adalah sebagai berikut:

1. Mencapai high quality customers: web surfer pada umumnya berasal dari high income earners, educated, technologically savy (IAB - Internet Advertising Bureau, www.iab.net).

2. Konsumen yang benar-benar terfokus (targetted customers).

3. Dengan menempatkan iklan / promosi pada halaman internet yang spesifik, maka perusahaan anda akan mencapai konsumen secara lebih spesifik.

4. Dengan menempatkan iklan / promosi pada halaman internet yang spesifik, maka perusahaan anda akan mencapai konsumen secara lebih spesifik.

5. Iklan dapat termonitor dengan program khusus.

Namun seperti layaknya hal-hal lain, iklan melalui media internet pun memiliki kelemahahan. Kelemahan iklan melalui media internet adalah sebagai berikut :

1. Meskipun mampu menjangkau khalayak lintas benua dan negara tetapi untuk Indonesia internet masih dimiliki oleh sedikit kelompok masyarakat tertentu (belum memasyarakat) serta hanya di daerah perkotaan.

2. Eksposure yang terbatas: Hanya dapat dieksposure oleh calon konsumen yang berniat mengunjungi suatu situs dan yang mengetahui penggunaan komputer serta internet. Pemesanan barang ataupun jasa secara online relatif belum aman dan belum menjamin perlindungan calon konsumen.

Mengatasi Stangnansi e-Commerce di Indonesia

E-commerce di Indonesia belum mengalami kemajuan yang
signifikan walaupun kini sudah ada payment gateway dengan kartu kredit
yang dapat dimanfaatkan. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman, yakni pemahaman tentang e-commerce itu sendiri.

Pada dasarnya ada 3 "pemain commerce", mereka adalah:

1.Seller
2.Middleman
3.Buyer

Satu-satunya kemungkinan middleman tidak ada adalah apabila sistem penjualan yang dilakukan adalah direct selling. Untuk e-commerce, hal ini jelas tidak mungkin karena keberadaan sebuah website harus terlebih dahulu diketahui oleh calon buyer sebelum bisa terjadi sales, untuk itu kehadiran middleman dalam wujud smtp, search engine, web iklan, auction dan sejenisnya adalah mutlak.

Di middleman inilah masalah kekurangan pemahaman tersebut terfokus. Masalah jarak dan pengelompokan daerah. Semua orang tahu bahwa internet itu tidak mengenal jarak, maka semua orang menganggap bahwa e-commerce itu juga tidak mengenal jarak, namun tidak sepenuhnya benar. Walaupun media dan komunikasinya memang tidak mengenal jarak, produk yang dipasarkan jelas mengenal jarak. Seporsi soto yang hangat misalnya, bisa saja diiklankan di web sehingga seluruh dunia bisa melihatnya, namun padaakhirnya transaksi hanya bisa terjadi apabila buyer berada pada jarak yang reasonable dari seller dikarenakan masalah ongkos kirim dan daya tahan soto tersebut.

Masalah ini tidak hanya berlaku untuk makanan, bahkan tidak hanya terbatas pada produk fisik. Untuk produk virtualpun ada yang dibatasi oleh jarak, misalnya produk voucher VOIP. Produk voucher VOIP yang diterbitkan oleh penyelenggara yang semua servernya berada di Amerika misalnya, tentu saja akan menjadi mahal dan tidak praktis apabila calon pembeli berada di Indonesia dan ingin dimanfaatkan untuk menelpon ke Singapura.

Dalam konteks middleman e-commerce di Indonesia, hingga pada saat paper ini dibuat, belum ada satu pun website yang memiliki fungsi untuk memfilter content secara otomatis berdasarkan lokasi fisik pengunjung dalam skala regional misalnya kota atau propinsi. Kekurangan ini berakibat fatal pada perkembangan bisnis e-advertising yang selanjutnya juga menghambat laju e-commerce secara keseluruhan.

Mengapa demikian? Sebagai contoh kita ambil statistik sederhana dari sebuah web komunitas:

Total page view per hari (front page) 80000

Total page view dari area Jabodetabek 30000

Total page view dari area Jogjakarta 4000

Berhubung semua iklan web selalu dinilai dari page view maka apabila ada sebuah perusahaan dengan produk yang hanya dapat dipasarkan dalam kota Jogjakarta ingin memasang iklan, seharusnya biaya iklan dihitung dari page view 4000 namun karena front page hanya 1 dan tidak ada filter berdasarkan pengunjung, biaya iklan tetap dihitung dari page view 80000. Akibatnya jika harga market dari 1 pageview adalah Rp.125, biaya iklan yang harus dikeluarkan adalah Rp 10 juta sedangkan hasil yang bermanfaat hanya senilai Rp. 500.000,- Hal ini tentu saja membuat para pemilik usaha yang produknya tidak dapat dijual minimal di seluruh kota besar di Indonesia, menjadi enggan memasang iklan dan keengganan memasang iklan otomatis membuat exposure produk menjadi rendah dan e-commercenya tidak berkembang dengan baik.

Apabila kekurangan ini diperbaiki, yakni dengan melakukan fungsi filtering lokasi pengunjung, maka biaya iklan dapat menjadi lebih murah tanpa harus memangkas penghasilan middleman, bahkan sebenarnya dapat meningkatkannya karena dengan harga yang dinaikkan menjadi Rp. 250 per page view namun dihitung 4000 page view, nilai iklan Rp 1 juta tetap menarik untuk pemilik produk dan meningkatkan basis omzet iklan 2 kali lipat.

Mayoritas pengusaha memasuki arena e-commerce karena beranggapan e-commerce itu murah biayanya dan berpotensi untung besar. Walaupun anggapan ini tidak salah namun adalah suatu kesalahan besar apabila menganggap e-commerce itu mudah dan dapat ditangani dengan santai.


Sesuai dengan prinsip "waktu adalah uang" maka dalam mengelola sebuah e-commerce, apabila seorang pengusaha tidak memiliki banyak uang untuk membayar orang menjalankan pengelolaan, maka ia harus bersedia menghabiskan banyak waktu untuk menjalankan pengelolaan secara langsung. Kondisi salah kaprah bahwa e-commerce itu mudah dan murah bertambah parah akibat banyaknya money game yang berkedok e-commerce, yang mengumbar bahwa dengan e-commerce bisa cepat kaya dan hanya perlu bekerja satu atau dua jam seminggu. Semua e-commerce yang berhasil, yang dimulai dengan modal kecil, mencapai keberhasilan setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dikelola dengan baik dan konsisten dan dengan menghabiskan sebagian besar waktu pemiliknya.

* * *



DAFTAR REFERENSI

  1. http://businesscommunicationresources.com/
  2. Husnan, Suad Drs.,MBA, dkk., Studi Kelayakan Proyek, edisi Ketiga, UPP AMP YPKN, Yogyakarta, 1999
  3. http://delittlere.blogs.friendster.com/my_blog/2008/01/o_ny_nova_ilang_1.html
  4. http://www.waena.org/index.php?option=com_content&task=view&id=557&Itemid=9
  5. http://www.rahasia-online-bisnis.com/blog/read/3/2636.html
  6. http://www.wirausaha.com/bisnis/pemasaran/mengenali_pelanggan_dan_keinginannya.html
  7. http://digilib.ti.itb.ac.id/go.php?id=jbptitbti-gdl-s2-2001-agustinver-1045
  8. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0205/02/ipt01.html
  9. http://incoharper.multiply.com/journal/item/92
  10. http://www.wirausaha.com/bisnis/pemasaran/10_tips_pengemasan_produk.html
  11. http://www.wirausaha.com/bisnis/pemasaran/pemasaran_kontekstual_dan_brand.html
  12. http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=6165
  13. http://www.wirausaha.com/bisnis/pemasaran/
  14. http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?p=100233&sid=d93cc1c9e67b92e12b356b357ca1ccbb
  15. http://www.1000ventures.com/business_guide/crosscuttings/biz_communication_main.html
  16. http://en.wikipedia.org/wiki/Business_communication
  17. http://en.wikipedia.org/wiki/Information_Communication_Technology
  18. http://www.suarasurabaya.net/v05/opini/?id=a353bd1d39029bf34aeb864fad502106200712
  19. http://aqcapek.blogs.friendster.com/my_blog/2008/01/eadvertising_vs.
  20. http://www.suarasurabaya.net/v05/opini/?id=a353bd1d39029bf34aeb864fad502407200714
  21. http://www.suarasurabaya.net/v05/opini/?id=883b1d6146198026eae394f6cf89150320075
  22. http://www.suarasurabaya.net/v05/opini/?id=a353bd1d39029bf34aeb864fad50270320076
  23. http://www.kompas.co.id/ver1/Iptek/0609/29/215630.htm
  24. http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/04/1/man01.html
  25. http://www.suarasurabaya.net/v05/opini/?id=a353bd1d39029bf34aeb864fad500507200713
  26. http://www.1000advices.com/guru/marketing_internet.html
  27. http://www.1000advices.com/guru/success_7habits_sc.html
  28. http://www.1000ventures.com/business_guide/crosscuttings/communication_main.html
  29. http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/22/time/084559/idnews/819967/idkanal/398
  30. http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/20/time/094508/idnews/819022/idkanal/328
  31. http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/21/time/124248/idnews/819683/idkanal/319
  32. http://www.suarasurabaya.net/v05/opini/?id=a353bd1d39029bf34aeb864fad50240420079
  33. http://ezinearticles.com/?Presentation-Technology-In-The-Digital-Age&id=603593